Pengantar
Gempa dahsyat di Jogjakarta 27 Mei 2006 mempertemukan kembali saya dengan guru/kepala sekolah saya waktu di STM Strada. Di dusun Siten, desa Sumbermulyo, Bantul (29 Mei 2006), yang telah porak poranda, saya memperoleh kabar dari warga, bahwa telah datang dua orang pastor. Salah satunya adalah Pastor H van Opzeeland SJ. Lewat beberapa kali kontak SMS dan email akhirnya saya memperoleh kesempatan untuk menulis sedikit tentang profil beliau. Semoga ada gunanya untuk rekan alumni STM (SMK) Strada dimana pun anda berada.
Dibesarkan di lingkungan keluarga sederhana

Pastor Hendrikus van Opzeeland SJ anak kedua dari lima bersaudara (Miep, Romo, Jeanne, Wim dan Leny), dilahirkan di Rotterdam pada 28 Mei 1929. Ayahnya Johannes van Opzeeland dan ibunya Hendrika van Schendelen. Keduanya sudah tiada, juga Jeanne.
Kala muda, Johannes van Opzeeland bekerja sebagai tenaga kasar pada perusahaan perbaikan kapal. Kemudian berwiraswasta dibidang instalasi air (termasuk pemasangan talang-talang air hujan) dan sanitair. Sebelum menikah ibunya, bekerja membantu keperluan rumah tangga keluarga seorang dokter. Ia dibesarkan di perkampungan buruh kota besar. Sampai tahun 1940 kehidupannya berjalan damai. Ikut perkumpulan mudika, paduan suara paroki dan misdinar. Sampai disatu saat, perang mengubah kedamaian keluarga ini.
Mengapa?
Pada 10 Mei 1940 kota Rotterdam dibom oleh tentara Jerman. Seluruh pusat kota hancur dan terbakar. Mulailah okupasi Belanda oleh Jerman. Semua perkumpulan dilarang. Lama-kelamaan Rotterdam menjadi daerah tertutup akibat invasi sekutu. Tahun 1944 timbul kelaparan hebat. Banyak orang meninggal. Desember 1944, disaat puncak musim dingin, romo bersama kakak perempuan akhirnya harus berjalan kaki tiga hari ke Belanda timur untuk mencari makanan. Beruntung, sedikit gandum bisa dikumpulkan. Namun kesulitan belum berakhir. Mereka tidak dapat pulang, sebab perang masih berkecamuk. Akhirnya mereka tinggal lima bulan di daerah itu ditampung oleh keluarga buruh pabrik tekstil.